Filosofi

holis-satriawan.com

SENI YANG UNIVERSAL

English version

Seni untuk kehidupan, agar hidup bisa berkesenian.
Jika hidup tidak berkesenian, maka hidup itu akan keras dan tidak berkepedulian, karena seni itu halus dan mempesona.
Maka orang yang berkelakuan seni itu akan tampak indah dan mempesona. 

Semua itu sumbernya Al-Jamal, yang memiliki segala keindahan, yang memberikan semua bentuk keindahan. 

Seni bukan urusan bisa melukis, memahat, mematung atau seni-seni lain yang disebut dengan berkesenian.

Seni bukan yang rambutnya panjang. Seni bukan yang menuruti egonya. Seni hanya indah dan mempesona.
Maka jika hidup berhias kesenian yang dilandasi cinta terhadap tuhan maka akan melahirkan seni yang memiliki cinta yang dianugerahkan tuhan.
Sehingga seni itu punya ruh yang akan tampakkan keindahan, keharuman dan ke-Agungan-NYA.

Jadi, sangat berbeda dengan tukang pahat, tukang gambar, tukang lukis / tukang mewarnai, tukang mebel, tukang pahat, dan lain sebagainya. 

Seni yang disebut universal karena seni itu bisa memasuki semua nafas kehidupan.

Yang selalu menampakkan keindahan, apapun prilaku pekerjaan karena semua dilandasi dengan seni dan karya keagungan seni.

Seni itu sendiri adalah karunia yang paling agung, mulia. 
Maka sudah sepantasnya manusia itu hidup dengan dasar keindahan, keikhlasan, kesyukuran dan kepercayaan diri atas pertemuan dengan tuhannya. 
Jadi itu akan menunjukkan kualitas manusia yang berkesenian.

Karena seni itu sendiri adalah bagian dari dasar-dasar kehidupan, yang akan membawa ruh yang bersinar, sehingga akan membuat indah orang-orang yang melakukannya. 

Seni tidak memilih baik-buruk, besar-kecil, pangkat-jabatan, dan lainnya. 
Seni tidak pernah menilai dan memilih. 

Seni hanya memberikan warna pada yang sulit menjadi mudah, yang jelek jadi indah, yang hina menjadi mulia, yang putus-asa menjadi punya harapan dan keyakinan yang besar.

Itulah Seni yang Universal

Karena seni itu hidup.
Hidup itu seni, yang ujung-ujungnya kepada Sang Pencipta Seni, Al-Jamal.

Jadi, indera seni, nafas seni, jiwa seni, maka manusia yang seperti itulah yang bisa berikan warna kemuliaan dan keagungan.
Maka sepantasnya kita berharap dan berlatih menjadi manusia yang berkesenian. 

Seni itu berperan penting untuk cinta. 
Yang menangis dapat menjadi tertawa, yang gundah-gulana menjadi bahagia, yang putus-asa punya harapan. 

Maka pantas seni itu menjadi "Jembatan Agama"
(Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A. atau sering dikenal Said Aqil Siroj adalah Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama periode 2010-2020).

Agama itu lembut, halus, tegas, dan apa adanya. 
Sementara seni itu membuat fisik yang indah, sehingga agama itu jantungnya dan seni itu casingnya (pembungkusnya).

Seni itu simple, mudah, tergantung jiwa anda berkesenian.
Indah itu tidak harus mahal.
Nyaman itu tidak juga harus mahal.

(Mohamad Holis Satriawan)